Kenapa Terlalu Terburu-buru?

Asalamualaikum. Tengok kanan, tengok kiri. Pertanda selesai salat. Sat! Secepat kilat cabut dari Al-Fath. Sebetulnya, sedari masih rangkaian salat, jiwa pun sudah melayang hingga ke kos. Letih sekali, betulan. Menyambi zikir dan doa sambil berjalan di arah pulang atau ke lab praktikum berikutnya. Entah waktunya yang memang terbatas, atau otak yang terlanjur gagal mencerna keadaan.

Semacam ada rasa bersalah yang begitu besar, tapi sulit digambarkan. Seakan-akan yang berulang tahun hari ini ada di hadapanku saat itu juga. Bertanya, “Riz, kenapa enggak mau berdoa dulu, sejenak?” Perasaan itu aneh, tapi betulan nyata, suer, nyata betul sedihnya, karena aku tak tahu harus menjawab apa. “Apa sih yang di-buru-buru-kan?” tanyanya lagi. Memang aku bisa jawab apa? Mungkin akan dikata gila juga oleh orang-orang lain di sekitar kalau aku jawab keras-keras padanya.

Mungkin itu cuman proyeksi dari cerita-cerita yang aku dengar tentang kamu. Yang begitu peduli pada pengikutnya, begitu sayang padaku. Tapi mudah-mudahan kamu juga tahu, aku juga berusaha. Atau boleh jadi, itu cuman ketamakan ku sendiri, yang tak lagi bisa kusadari sebab sudah terlanjur tenggelam di pusaran. Secuil pun waktu seakan-akan cuman boleh diisi oleh hal-hal ‘produktif’, hanya saja diksi tersebut didefinisikan oleh kapitalis.

Maaf, ya, aku hanya menjadi kuda perang, namun kali ini bukan yang mau diajak berlari kencang, bukan juga yang siap membenturkan kuku dengan batu hingga memercik bunga api, bukan pula yang mau menyerang di waktu pagi buta, apalagi menerobos ke tengah kumpulan musuh, melainkan hanya rebahan di kandang atau malah membajak sawah atau hal-hal yang tidak nyambung dengan tupoksi lainnya.

Sebagai bentuk kepasrahan, kelemahan, ketundukan, aku akan mencoba, sayang, berbagi sedikit lebih banyak waktu. Maka, doakan aku.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.