Tentu energi dalam diri ini terbatas. Cepat terkurasnya di masa-masa seperti sekarang yang banyak cobaannya. Ingin rasanya mengucapkan, “yasudah, pasrah saja”, tapi nurani menolak. Tentu kita takkan mampu melawan dengan tangan soalan ini, sebab mereka pun tidak main fisik. Pun tentu kita tak dapat beradu argumen dengan lisan, sebab enggan didengarkan. Maka, cara terakhir, demi menjaga kewarasan, aku mengingkari dengan hati.
Sempat diminta buat tulisan komitmen, tapi ah, sudahlah, berbohong pada orang lain saja mampu buat sesak di dada, eh kini diminta membohongi diri sendiri bahwa aku bersedia “tanpa paksaan” mengikuti ini semua dan mematuhi kebijakan yang… (isi sendiri)
Nah, daripada gila sendiri sebab pergolakan di hati, tapi tentu takkan juga kita pakai cara yang eksplisit memberontak (dengan tidak membuat surat sama sekali), yang justru membuat capek telinga nantinya, maka lebih baik aku menulis surat, namun dengan narasi yang sedikit berbeda dari template-nya.
Aku pahami betul, kalau aku hanya merengek tak mau, takkan ada bedanya diri ini dengan bayi yang baru brojol. Maka, kita perlu memasukkan juga di mana letak kesalahannya di tiap penolakan. Oh, di sini dan di situ. Maka aku coba tuliskan semampuku, di kertas A5 itu.
Tapi, syukurlah, saban hari ketika tulisan itu dikumpul, tak digubris juga di evaluasi. Entahlah, mungkin terlanjur terbatas waktunya buat mengecek satu per satu, atau malah keburu percaya semua tulisannya akan sama.
Sebelum marah-marah, perlu diingat, aku bahkan masih mengerjakan setiap tugas-tugasnya semampuku. Aku bahkan antusias sekali dengan proyek besarnya yang juga dibebankan, sebab bagaimanapun, di bagian itu, aku dapat melihat kebermanfaatannya.
Aku juga masih dan akan terus membuka diri untuk diskusi, dan bukan menyerang personal, ad hominem, apapun itu lah. Tapi yasudahlah, jikalau memang di kesempatan kali ini masih harus begini karena satu dan lain hal, maka mudah-mudahan Tuhan merestui dan mau memudahkan jalanku buat memperbaikinya di kesempatan yang akan datang, mengubahnya dari dalam, buat adik-adikku selanjutnya.

Leave a Reply