“Udah Mati, Belum?”

Itu pertanyaan yang keluar dari teman perawat nenek di RSCM dulu. Tentu pertanyaan itu bukan doa buruk-buruk, melainkan kesadaran penuh bahwa orang-orang sepantaran mereka memang sudah banyak yang wafat, dan barangkali mengakui besok bisa jadi mereka selanjutnya. Lucu saja rasanya menyadari adanya pergeseran pertanyaan dari “bagaimana kabar dia?” bisa sewaktu-waktu menjadi sudah mati atau belum.

Grafik parabola-terbuka-kebawahnya sekarang sudah di posisi menurun, alias gradien negatif, sepengelihatanku, mendekati titik akhir, yang mana nyaris sejajar dengan titik awal. Maknanya, mereka kembali seperti anak-anak. Kehidupannya tinggal menikmati apa yang telah diusahakannya, sambil mengencangkan ibadah. Kemudian bernostalgia di tiap kesempatan yang ada dengan prasasti seumurannya, sebelum akhirnya memori itu terbakar pelan-pelan.

Sesekali teriak “ADUHHH LUPA! LUPA!” ketika ditanya perihal kenangan dulu semasa muda. Mungkin bukan salahnya, sebab memang tak banyak yang mengajak dia berbincang sepanjang sisa hidupnya. Maka memori itu tak lagi terawat. Kian berdebu tak tersentuh. Kegiatannya menjadi hanya sebatas duduk di kursi kayu di teras melihat matahari terbit dan tenggelam tiap hari. Maka sudah menjadi wajar dia seperti kehilangan separuh jiwanya.

Kata Nenek, dia dahulu karismatik dan digemari banyak orang. Orang-orang kesehatan, dokter atau apapun itu, se-Indonesia kalau ada perlu mutasi tempat kerja, pasti melalui orang ini.

Sambil menunjuk ke bagian-bagian badan, dia mengeluh bahwa sudah tak mampu lagi menggenggam barang apapun. Kesemutan terlanjur menggerogoti kedua tangannya.

Bibirnya masih membiasakan lafaz dua kalimat syahadat, demi persiapan, meski tiap bicara blepotan kemana-mana.

Kosong matanya menatap langit. Menangis.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.