“Maaf, Kak, Kami Hanya Terima Pembayaran Nontunai” dan Kebencian Soalan Uang Lainnya

by

in

“Udah gue yang talangin aja,” kataku sok-sokan pada Gilang di depan kasir.

Kami sedang pesan ayam goreng di Fried Chicken Master. Enak, kok, jauh lebih enak daripada merek sono yang pendukung zionis, tapi sayang, berjuta-juta sayang, masnya bicara persis seperti di judul. Bagaimana tidak gila? Baru kemarin hari tarik uang dari ATM. Ya, berarti, kan, sekarang adanya.. uang.. KERTAS! Untungnya, Gilang berbaik hati.

Tentu sebagai warga negara dan pembeli yang baik, marah-marah ke pegawai secara frontal bukan bentuk kebijaksanaan. Tapi kalau salah, ya, tetap harus dikatakan salah, dong. (Meskipun akhirnya enggak ngomong juga karena malas). Pernah dengar kasus soal Roti’O yang dituntut karena enggan nerima tunai dari wanita paruh baya? Bersyukurlah bukan perusahaanmu yang terlanjur viral, bung, dan berbenahlah, I guess.

Kompas: “Menolak Pembayaran Tunai Bisa Dipidana”

Kakakku, sarjana ekonomi, pernah cerita bahwa pada zaman dahulu, orang, saat sedang sulit-sulitnya menggotong emas dan perak hanya untuk bertransaksi, didatangi lalu ditawarkan sama orang yang membawa kertas dan bilang “pakai ini aja, lebih enteng, lho. Nah, emas dan perak kalian dititipkan padaku.” Lalu, mereka meyakinkan, bahwa kertas itu bernilai segini dan segitu, setara dengan emas sekian gram. Eh, sekarang, pas sudah percaya dengan kertas yang katanya punya nilai itu, diminta dititipkan pula, lalu nanti bakal diganti dengan hanya angka-angka di rekening. Itu semua dengan dalih: kertas itu akan cepat rusak atau banyak pemalsuan atau sekadar sama-sama malas menghitung manual.

Lucu, ya? Kalau enggak, yasudah, coba baca sekali lagi. Aku enggak mau tertawa sendiri.

Aku jujur agak berharap dunia ini kembali lagi ke penggunaan emas dan perak atau dinar dan dirham. Hampir pasti setelah ini aku dimaki-maki, tapi coba dipikir lagi. Uangmu itu, yang tidak ada harga dirinya (yang mana satu dolar Amerika setara delapan belas ribu), enggak akan berlaku di luar negeri. Dipaksa kudu ke money changer lebih dulu, atau ketika saat menggunakan kartu atau QRIS di negara tetangga pun, uang itu akan dikonversi dulu, sesuai kurs saat itu. Rempong, memvalidasi betapa rapuhnya sistem uang itu. Belum lagi kita bicara kasus terburuknya jika negara ini betulan bubar per tahun 2030 (mengacu prediksi Presiden). Jelas, bila memang betul terjadi, rupiah sebagai mata uangnya akan kehilangan martabat layaknya Dolar Zimbabwe, hingga akhirnya ditinggalkan. Nah, di sisi lain, kalau emas, mau di belahan dunia manapun, bakal tetap dihargai. Bahkan, dengan jumlah emas yang sama, baik di zaman Rasul atau era kehidupan di mars nanti, kamu bisa membeli hal yang sama.

Day 2 #30DayWritingChallange


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.