Dan kamu semestinya percaya.
Aku tidak pernah memiliki matahari, jalan dan pepohonan, tapi semuanya menyambutku. Kompleks perumahan sebelah, yang tak pernah sekalipun aku jadi bagiannya, lebih kukuasai ketimbang mereka yang bertengger di sana.
Mataku sangat kaya. Aku melihat semuanya lekat saat berkeliling: bunga merah, sarang tawon agak tersembunyi, puntung rokok setengah luruh di antara cone block, tahi anjing beleberan, (calon) rumah yang masih rangka hingga bokurai di atas kepala. Pernah lihat semua itu, dengan setajam-tajamnya tatapan? Biar ku tebak, kau lebih suka doomscroll atau maraton drama cina sepotong-sepotong di TikTok. Tak apa, itu pilihanmu. Aku dan kau sama-sama tak perlu memiliki itu untuk bisa terhibur. Biayanya sepenuhnya sama, hanya berupa perhatian.
Jemariku sungguhlah kaya. Aku bersalaman dengan ranting, tos solid-solid-solid dengan tiang listrik tiap sekali putaran lari, pat-pat si meng tiap mereka nongol di bahu jalan. Mungkin akan dibilang “more like kaya akan bakteri dan kuman,” biarlah, toh masih bisa dicuci. Intinya, menurutku, itu jauh lebih kaya ketimbang tiap malam menggenggam kemaluan atas nama kelegaan, atau raba-raba tubuh pasangan yang boro-boro siap diajak serius kemudian berlindung di balik kata cinta atau physical touch, atau push rank yang tak pernah ada kata tamat dan seringkali malah bikin emosi, atau apalah.
Mulutku berdikari. Kebal dari setiran mengenai apa yang viral atau orang banyak makan. Makan berulang kali di tempat yang sama, dengan menu yang sama atau so called menu rumahan, atau makan seadanya, atau makan tanpa nasi―dan kondisi ekstrem lainnya, tapi tetap mulut mampu diajak kerja sama.
Makmur jaya kepalaku. Dipinjamkan buku impor secara cuma-cuma sama teman. Memang tak pernah jadi milikku, tapi ilmunya merasuk. Sehingga dimampukan aku berpikir tentang bagaimana aku berpikir.
Besar hatiku. Tidak rendah diri dengan itikad baik yang dilakukan. Instal biopori (yang tak pernah jadi penemuanku, melainkan atas jasa pak Kamir seorang) sendiri di rumah, tapi akhirnya direkognisi RW setempat dan komunitas Gereja untuk belajar bersama dan reduplikasi.
Aku merencanakan, semuanya, apa yang ingin digapai hari itu, dari pagi buta. Itulah dia: kekayaan. Waktu melimpah buat memecah mimpi jadi makanan ringan tiap harinya, mudah ditelan, enak, tapi tetap sehat sebab tak pernah instan. Lalu Aku memohon sayang-Mu. Sebab cuman Kamu yang paham aku seutuhnya, lebih dari diriku. Pelukannya yang lebih hangat dari siapapun. Satu-satunya yang mampu buat aku menangis air mata dingin.
Akulah orang terkaya di dunia, dicurahkan gairah, yang berarti hidupnya tidak autopilot dan hanya mampu bilang “enggak kerasa, ya, tiba-tiba udah jumat lagi aja?”
Ini semua bukan melulu tentang kepunyaanku, tapi tentang apa yang dapat kunikmati pada tiap detiknya, dan syukuri, meski semua-muanya tak pernah jadi milikku sepenuhnya. Kita sedang bahas rezeki.
Day 3 #30DayWritingChallange

Leave a Reply