Ceritanya, kalau suatu saat aku hilang, dan tak bisa dihubungi, entah karena memang sedang ingin jauh-jauh dari ponsel atau bahkan tetiba direnggut nyawaku, barangkali, kalau kau mau, bisa cek di antara ketiga tempat ini mengenai keberadaan jasadnya:
- Danau, atau apapun itulah yang penting ada cekungan tanah berisi air
Mungkin karena memang kita dan mereka sama-sama dari air juga, kali, ya? Melihat mereka menari dengan angin sudah cukup. Pola-pola cymatics yang lahir dari rahimmu membuat masalahku tampak kecil dan luruh juga lama-lama. Meskipun sedih terkadang datang atas rona kehijauan atau kekuningan pada parasmu, lagi-lagi akibat manusia tak tahu diri, tapi sungguh, tetap manis, kok, sayang. Aku rela bengong menatapmu kosong sedari si matahari masih sibuk di tempat kerjanya hingga pulang lagi. Barangkali kalau aku bisa, aku akan bertepuk tangan bersama pohon atas penampilan memukau itu.
Aku tak gitu peduli mau kamu dibuat langsung oleh tangan Tuhan atau melalui manusia, tetap aku hargai. Danau LSI di kampus yang masih banyak burung, atau Rawa Kutuk yang kini banyak orang mancing dan olahraga dayung yang kebetulan dekat rumahku, mungkin bisa dikatakan yang terbaik sejauh ini.

2. Perpustakaan
“Enggak ada yang lain, selain baca buku,” itu mantra yang kuucap tiap enggak tahu harus apa. Setidaknya, itu bisa dikatakan hampir pasti jauh lebih baik ketimbang kesia-siaan yang lain.
Tiap kunjungan ke rumah buku, i.e. perpustakaan, selalu meriah. Bertemu dengan keluarga besarnya yang warna-warni: ada yang penuh mimpi nan banyak cocotnya (novel) dan ada pula yang berwajah datar namun sebetulnya beritikad baik (sejarah), dan banyak lagi turunan-turunannya, menjadi kesenangan yang barangkali setara dengan kesan tiap mampir ke rumah seorang wanita, yakni sama-sama ada debar gugupnya, tapi di saat yang sama, kegembiraan menyelimuti.
Jujur, sukar untuk membuat hirarki dari tempat ini. Yang paling berkesan sejauh ini adalah perpustakaan di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.

3. Masjid
Barangkali tiap ke luar negeri, yang kali pertama ‘kan kucari adalah tempat ini. Tempat yang mana aku bisa menangis sebab takjub “ternyata salatnya (gerakan dan bacaan) tetap sama, ya?” meski terpisah samudra berkilo-kilometer.

Hanya di tempat ini aku diterima apa adanya: entah lagi rajin ibadah, sedang malas bukan kepalang, atau sekadar ingin mampir untuk buang hajat, tempat tidur ketika rumah terlanjur dikunci, entah datang beserban atau bermodal baju yang terlanjur bau keringat terbalurkan debu jalanan.
Memohon ampun di sana. Merasa cukup. Selesai. Hanya di sini aku senantiasa berdoa maut segera datang.
…
Nampaknya pengikut di Instagram sebetulnya sudah cukup tahu, tapi mari kita buat ini lebih jelas.
Day 1#30DayWritingChallange

Leave a Reply