Sekarang Barang Punya Gender, Ceunah

Setiba di rumah, aku bingung. Ini keranjang sepedaku kok menghilang dari tempatnya? Digeletak di atas lemari, dengan baut pengencangnya terlepas, entah oleh siapa. Umi bilang enggak tahu, maka berarti sisa satu suspek. Pas ditanya ke Abi, lucu ternyata, dia menjawab, “iya, dilepas, soalnya kayak cewek banget.”

Mana pakai diksi “banget” pula. Aku menghargai, sih, toh itu sepeda dibeli pakai duit dia. Cuman, ya, tetap tak masuk di akal. Jelas-jelas itu keranjang hanya sesimpel alat yang membantu biar kalau bawa belanjaan jadi mudah, enggak terayun-ayun ketika sepeda berakselerasi dan deselerasi. Di bagian mana hal tersebut menjadi milik perempuan saja? Sepengelihatanku, barang kayak begitu enggak pernah punya alat kelamin, deh, atau mataku yang salah?

Sepeda kuningku bertengger di Stasiun Rawa Buntu

Kerjaan kita selalu tak jauh-jauh dari mengelompokkan hal-hal yang enggak penting. Kalau main boneka, itu cewek; main bola itu cowok. Merah muda untuk wanita, biru donker untuk pria. Dari dulu selalu dicekoki begitu. Kemudian dijustifikasi dengan dalil yang kurang lebih berbunyi bahwa akan melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, dan begitu pula sebaliknya.

Tentu saya sepakat, bahwa ketika ada lelaki yang mengoles gincu di bibir, maka itu perlu dipertanyakan intensinya. Tapi, kalau mengotak-ngotakkan benda mati yang secara intrinsik netral, seperti keranjang sepeda atau warna atau pilihan minuman favorit, itu perlu dicek lagi logika akal sehatnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.