Sebagaimana yang kanda Bahlil bilang, barang ini memang sangat enak. Tapi, sebagai orang yang hidup as warga Jepang (manifesting), hal ini menyebalkan. Kita enggak usah bicara aturan dulu deh (yang padahal Jepang dan negara Konoha ini aturannya sama-sama enggak membolehkan). Kucing jalanan pun tahu ini memang mengganggu arus keluar masuk kendaraan, atau setidaknya, ya, mengganggu pemandangan, apalagi di jalan yang terlanjur sempit sedari awal.
Saya percaya korupsi, atau kejahatan atau keburukan apapun itu, dimulai dari hal yang dianggap sepele. Perlahan hal itu dinormalisasi, dianggap memang sudah seharusnya begitu, alias sudah normalnya demikian. Ya, termasuk hal kayak begini. Kita teriak-teriak pada mereka yang di Senayan, “KORUPTOR HUKUM MATI!” Nah, sekarang, kalau koruptor ini mesti dihukum apa?
Ayolah, bung. Masa punya mobil, tapi tak memberikan dia rumah. Kasihan, lho, dia kehujanan, kepanasan. Zalim betul lah pemiliknya itu. “Lahannya sempit, bro!” No excuse, sih. Ya, antum secara sadar sudah membeli makhluk itu. Silakan dipikir sendiri. Mau sewa lahan parkir, kek. Mau numpang di masjid, kek, (jangan lupa izin), atau ya jual lagi saja, lalu beli motor atau sepeda sebagai gantinya. Atau, kalau kalian yang memang membangun sendiri jalanan tersebut, atau memang hanya kalian sendiri yang menggunakan jalan itu, ya, okelah, dapat diterima. Tapi sekali lagi, kalau konteksnya itu merupakan jalanan di kompleks perumahan atau gang buntu, nah tentu tak boleh dong diklaim milik sendiri.
Saya doakan mudah-mudahan dilancarkan rezekinya, setelah kamu sudah mau beritikad baik menghormati pengguna jalan lain tentu saja.

Leave a Reply