Jadi, Abi Sedih, Kan?

Iya. Lunglai sebadan-badan dan suara getarmu buktinya ketika mengucap sambutan lamaran tadi, meski yang keluar dari mulutmu adalah “saya ikhlas” dan “saya terima”, di hadapan tamu undangan. Abi hanyalah seorang manusia dan bapak yang menjadi bapak-bapak pada umumnya. Bapak dengan pikiran berupa: darahdagingnya yang dirawatnya dari lahir, yang diterima darinya cinta pertama, tiba-tiba direbut oleh bocah yang datang dari entah-berantah lalu dibawanya anak perempuan itu pergi.

Ini bukan kali pertama aku bertanya akan hal itu padanya, dahulu, di masa awal-awal berkenalan dengan calon, jawaban dia masih sok dingin: “Iya, tapi setidaknya Abi sudah meninggalkan dia (anak perempuannya) dengan bekal berupa pendidikan dan harta.” Memang betul dan masuk akal, tapi selayaknya (meski tak baik sebetulnya) seorang pria dewasa, dia meninju-ninju perasaannya sendiri.

Kali ini bapak yang lain. Papah dari teman perempuan. Mengucapkan hal yang senada di meja makan, bahkan dalam tutur yang lebih jujur. Aku hanya bisa bilang, “Iya, saya paham, Abi pun merasakan hal yang sama,”

Ide pertanyaan itu pun keluar dari aku yang menonton seorang bapak-bapak di YouTube yang cerita soalan pernikahan, dan bercerita betapa pedihnya hanya untuk membayangkan mutiaranya dirampas begitu saja.

Dan terakhir, sebagai pelengkap cerita tulisan ini, aku pun bertanya hal yang sama persis pada kakek dari Abi, jawabannya berbeda: “Enggak boleh, dong, justru harus senang,” katanya. Ah, semua lelaki sama saja. Siapa pula yang “mengharuskan” kakek untuk memperkosa rasa senang ketika perasaan sebenarnya adalah sebaliknya?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.