Air asin menggenang di pelupuk mataku beberapa jam sebelum ujian Matematika 2, mata kuliah favorit kami semua. Bukan karena paham sebentar lagi bakal ditodong soal-soal nyelekit nan sulit, bukan juga karena letih memahami dan menghafal rumus yang kelewat banyak, tapi justru karena aku berbincang mesra dengan Tuhan saat itu.
Waktu itu di pelataran Musala Ulil Albab, persis di seberang medan pertempuran nanti (gedung CCR). Masih sejuk, masih sepi. Hanya ditemani matahari, marbut dan buku Kalkulus Edisi Kesembilan Jilid Dua. Aku sengaja datang jauh lebih awal sebelum jadwal agar peperangan mudah ditaklukkan.
Asli deh, pas dilihat-lihat lagi, cacing-cacing-cacing (tiga cacingnya, karena lipat tiga) integral itu sudah cukup bikin penasaran sebetulnya. Persamaan kurva polar dari bunga lucu juga mampu bikin keheranan. Bingung. Bengong sedikit lihat gedung sambil mikir lagi tentang ada sesuatu apa yang coba dikomunikasikan? Kenapa terlalu rapi? Aku membayangkan apa yang terjadi kalau semua itu meleset sedikit saja, maka Tuhan pasti akan lebih diragukan lagi eksistensinya.
Loh, kenapa mikir jauh-jauh amat? Oke, pernah menonton Project Hail Mary? Pak Gosling sempat bilang di situ bahwa matematika ialah bahasa alam semesta ketika hendak berbincang dengan alien, dan nampaknya memang semestinya begitu.
Cobalah lihat sekali lagi. Newton, Leibniz dan Penrose saja, yang sukses buatmu gila dengan berbagai teoremanya itu, ternyata mau percaya dan merendahkan sayap mereka, mengakui kita hidup di “the best of all possible worlds.” Sampai-sampai keluar tuh angka probabilitasnya: satu banding sepuluh pangkat sepuluh pangkat seratus dua puluh tiga, suatu angka yang sulit dijelaskan saking banyak angka nolnya. Tangis itu pecah saat aku sadari itu semua lagi.
Belum selesai. Di mata kuliah Ilmu Kebumian, kami juga diajarkan betul bahwa planet ini berlapis-lapis sekian dalam. Sampai detik ini kita tak pernah tahu penampakan sebenarnya dari perutnya, melainkan dengan pendekatan seperti gelombang seismik. Dan aku paham betul pernah ada percobaan penggalian oleh Soviet, yang berhenti di kedalaman secuil dua belas kilometer. Secara teoretis, memang dapat kita gali lebih dalam, tapi takkan pernah bisa menembus, yang boro-boro menembus bumi dari ujung ke ujung, menembus sampai inti saja sudah keburu lenyap akibat panas dan tekanan dan tanah yang kian menutup. Lalu dengan kesadaran itu semua, suatu saat, kamu iseng dan tak sengaja membaca omongan Tuhan, “dan janganlah kamu berjalan di Bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau takkan dapat menembus Bumi…,” lantas apa yang bisa kau lakukan? Tak ada yang kau mampu lakukan selain terdiam kaku, menggigil saking ketakutannya.
Itulah sedikitnya yang membuat aku ingin melahap apapun ilmu yang baik-baik di dunia ini. Aku bersumpah akan jadi orang paling rugi ketika belajar belasan tahun dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi kalau segalanya berhenti di nilai rapor. Aku berjanji akan senantiasa membuka diri terhadap genre buku apapun itu, judul apapun itu. Aku sungguh dikelilingi kerugian ketika semenit saja kubuang waktu untuk kesempatan itu. Politik, sejarah, filsafat, biologi—apapun itu semuanya adalah kepunyaanMu, dan senantiasa ada Kamu di dalamnya. Seluruhnya dengan itikad agar aku bisa berbincang, lalu ketakutan, sekaligus bisa merasakan hangatnya sayang yang bertubi-tubi, dalam bahasa yang paling manis: matematika. Dan lagi-lagi aku sungguh bersyukur bisa punya alasan buat mencintai Kamu lebih gila-gilaan.

Leave a Reply