Aku Hanyalah Fakir Miskin yang Dikasihani Abi Umi

Aku bisa saja protes, “aku tak pernah minta dilahirkan,” atau “dari niat suatu malam dan darah dagingmu aku eksis, maka sudah jadi keharusanmu,” atau alibi-alibi klise lainnya, tapi itu takkan pernah bisa mengubah fakta bahwa Abi sudah usai kewajibannya dengan agama untuk membiayai itu semua. Pengangguran, itulah aku, dan enggak mampu hidupi dirinya sendiri, ngemis pula, betapa malangnya.

Berbeda dengan anak perempuannya yang memang masih harus diberi bulanan hingga nantinya bersuami, aku tidak. Memang sudah aturannya semuanya berhenti ketika mimpi basah itu datang. Itu sudah “ketentuan dokter.” Paham, enggak? Tuhan yang memerintahkan. Kau bisa apa?

Untungnya, mereka masih mau mengasihani ketika melihatku melarat, kemudian berdonasi, meski penerimanya tak tahu diri, boros pengeluarannya. Lama-lama, sedekah itu kuanggap biasa, bahkan keharusan. Atau dalam kata lain aku bilang bahwa sedekah dari abi dan umi itu adalah sebagai “gajian” atas kinerjaku yang hebat, dalam tidak melakukan apapun. Menganggap Abi hanya jadi mesin ATM yang bakal senantiasa memuntahkan uang tiap tanggal lima belas atau menganggapnya sebagai sebatang pohon yang darinya tumbuh buah uang, dan yakin bahwa aku sudah sepantasnya dan seyogianya mendapatkan semua itu. Maka pastinya kubelanjakan apapun. Apapun, semauku. Toh sudah uangku sepenuhnya, kan? Kafe tiap hari, kenapa tidak? Borong baju, sepatu, kenapa tidak? Berikan hadiah wah buat pacar? Rokok, diskotik, … kenapa tidak? Kan? Ya, kan?

Aku hanyalah fakir miskin, yang berarti tak punya harta dan tak punya pekerjaan, selain mengemis tiap bulan. Berbeda medium saja: Aku merengek via WhatsApp; teman-teman lain menangis di jalanan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.