Pagi buta, tanpa aba-aba dan tanpa pembukaan maupun salam sedikitpun, Umi kirimkan pesan WhatsApp. Pesan apakah itu? Apalagi kalau bukan memintaku agar segera pulang. Ya, kebetulan memang belum pernah pulang semenjak ospek.
Ah, anak asrama satu ini sudah terlatih untuk tak pulang ke kediaman berbulan-bulan. Untuk apa pula? Toh sudah ada teknologi mutakhir: panggilan video. Nasihat-nasihat mereka mudah saja dicerna olehku meski muka cantik ibuku harus terkompresi menjadi dua dimensi. Berbeda sedikit saja kok, pikirku.
Bukan gimana-gimana, tapi Aku enggan pulang sebelum pekerjaanku seluruhnya usai. Buat apa berpulang jika masih banyak tanggungan, kan? Pikiranku hanya akan terbelah dua sesampainya di sana. Ingin bersantai, tapi kerjaan mengintai; Ingin bergulat dengan tugas, tapi kasur dan pelukannya menarik ku erat.
Tapi apa boleh buat? Rasanya mandat yang kali ini tak bisa dinego, sedikitpun.
Baiklah, sepulang kelas Koran Kampus langung tancap gas ke arah barat daya dari ibu kota. Macet di sepanjang jalan, seperti biasa. Tiba saat hari mulai gelap, menjelang azan magrib. Puji Tuhan dapat melihat wajah-wajahnya kembali, mereka menyambutku dari depan pintu.
Masih bingung. Aku sadari, aku tak bisa memilih keduanya. Sekarang aku di rumah, maka Aku harus pilih mereka. Tugas, nanti dulu, ya, sebentar. Izinkan aku melupa tentang dirimu.
Makan malam sudah dihidangkan, sederhana saja. Ayam bakar yang sudah agak dingin dengan sop jamur. Hanya ada kami bertiga di ruang tamu, terduduk dengan formasi huruf ‘L’ sesuai dengan bentukan sofa. Aku makan dengan lahap bak penyedot debu yang disetel maksimum kekuatan hisapnya sebab bagaimanapun kondisinya masakan ibu akan tetap terasa nikmat. Sambil menontonku makan, mereka mulai mengenang-ngenang kembali bagaimana detail perkara Aku terlahir ke dunia ini. Betapa sumringahnya mereka menceritakan bahwa sejak kecil kepalaku begitu besar, dan oleh sebab itu dicocoklogi bahwa nanti anak ini akan begitu cerdas. Aamiin.
Usai makan langsung bersihkan seluruh alat makan. Berharap bisa termasuk kategori anak yang membanggakan kedua orang tuanya, meskipun belum bisa beri apa-apa. Umi datang dari belakang, beri kecupan di pipi—mungkin itulah pialanya.
Esoknya berkelana bersama Umi berburu susu kedelai, jalan kaki saja. Sebetulnya ini hanya inisiatifku seorang agar bisa menggenggam erat tangan dia berlama-lama. Sepanjang perjalanan, sambil mengomentari arsitektur rumah-rumah yang kami lewati, aku berusaha menghafal bentuk jari-jemarinya.
Di satu titik Umi sempat bertanya, “Gimana perasaan adek saat dikirimkan pesan seperti demikian?” Aku hanya bisa jawab, “Mandatnya sudah cukup jelas.”
“Memang, kita connect banget,” simpul Umi.
Sama halnya dengan saat bersama Abi berangkat ke masjid. Sambil mendengarkan keluhan dia tentang betapa bobrok, fana dan ringkihnya dunia ini, aku juga berusaha menghilangkan rasa angkuh sebagai lelaki yang sok dewasa. Aku juga ingin mengenggam tangannya, layaknya kami beberapa tahun silam di swalayan. Aku tak ingin melepaskannya sebagaimana dia yang trauma sebab sempat kehilangan anaknya. Aku pahami dengan sesadar-sadarnya juga bahwa pasti, suatu saat nanti, akan kehilangan kalian berdua.
Di akhir pelarian singkat ini, sesudah mengemas seluruh barang, kucoba menelisik kembali tiap-tiap sudut ruang tamu, dengan tatapan yang sedalam-dalamnya, dan putaran kepalaku berakhir di wajah mereka berdua, tepat di hadapanku. Kuperhatikan betul wajahnya yang perlahan berkeriput; juga ku dapat melihat uban-uban yang menjuntai sungguh kontras warnanya dengan rambut hitam kalian. Hal-hal tersebut ialah yang mustahil terlihat melalui panggilan video, aku baru sadar. Sambil menatap mantap wajah mereka aku bilang, “Mi, Bi, Ariz bakal menulis cerita berjudul Pulanglah agar Kau Bisa Menyadari Sudah Tumbuh Banyak Uban di Kepala Orang Tuamu.” Dan mereka tertawa. “Begini, deh, kalau punya anak reporter.”

Leave a Reply to Ms. D Cancel reply