Budaya Premanisme yang Mendarah Daging

Di parkiran motor Bento Kopi, salah satu kafe di Dramaga, saat mau balik ke kos, “Riz, ada uang kecil, nggak?” tanya bang Habibi. Tentu saja dia bertanya hal tersebut untuk melunasi ‘tanggungan’ pada preman yang menunggu kami dari ujung parkiran. “Kalau Ariz, sih, memilih buat nggak bayar. Malas euy!” Jawabku santai. Maka dengan penuh percaya diri, Aku menyelonong melewati bapak-bapak itu, berlagak layaknya sudah lunas. Maaf, bang Habibi, Aku cabut duluan tinggalkanmu sendirian.

Situ Gede, Cifor

Di kesempatan yang lain. Aku lagi mau cari angin di Situ Gede, Cifor. Sialnya, setelah memarkir motor di sana, “karcis” berwarna pink itu langsung ditodongkan padaku. Lima ribu rupiah untuk motor, demikian yang dapat terbaca oleh mataku. Sisanya, biar kutebak, logo-logo persekutuan preman di sana.

“Karcis” parkir

Aku berjalan di sepanjang jogging track di sisi-sisi danau, memastikan siapa pengelola tempat ini. Terpantau ada plang-plang yang dibuat KLHK dan Pemkot yang kurang lebih berisikan larangan untuk mendirikan bangunan di sekitar situ. Noted. Setelah merenung di tepian danau untuk waktu yang cukup lama, bulatlah keputusanku untuk tidak membayar preman itu dengan uang, melainkan dengan senyuman.

“Lima rebu. Belum bayar, kan?” Tanya bapak yang telah menanti uang lima ribuku itu. Saya mengiyakan. Namun, kulanjutkan dengan syarat: tunjukkan surat tugas dari pemerintah daerah terlebih dahulu, atau apapun lah itu yang merupakan bukti bahwa bapak berwenang di parkiran ini, baru saya akan bayar.

Di sini, saya, sebagai yang lebih muda, tentu tetap berusaha bertutur kata yang sopan dengan menggunakan kata “tolong” dan “maaf.”

Lucu. Beliau kebingungan. Dipanggillah kawannya yang lain. Bapak yang ini mengenakan rompi krem. “Oh, ada kok (suratnya), tapi sedang tidak dibawa,” begitu alibinya. Masih merasa kurang orang, mereka panggil satu lagi rekannya yang lain, mungkin yang kali ini adalah ketua gengnya. Namun, sayang seribu sayang, beliau ini juga beralasan yang sama.

Karena mereka ngalor-ngidul, maka saya jawab pula dengan metode yang sama. “Waduh, kalau begini ceritanya, saya juga bingung,” kataku. “Saya kan juga perlu bertanggung jawab, nih, pada orang tua (akan uang saya). Saya juga perlu bukti,” tegasku. Aku berusaha menahan tawa sepanjang perdebatan. Alhasil, aku buru-buru tutup obrolan santai ini dengan frasa yang preman banget, yakni “biar sama-sama enak, gitu, kan?”

Meluncurlah aku dengan selamat sentosa sambil ucapkan “punten” dan “maaf”. Maka sukseslah diri ini menjadi musuh koalisi preman se-Bogor Raya.

Dalam buku Politik Jatah Preman, didefinisikan bahwa seseorang yang menghasilkan bahaya dan sekaligus, dengan harga tertentu, perlindungan dari bahaya tersebut, adalah preman. Maka dapat kita pastikan dengan jelas bahwa semua bintang tamu kita dalam cerita di blog ini ialah preman. Subjek yang kita maksud di sini sangat jauh berbeda dengan tukang parkir yang memang resmi ditugaskan oleh pemilik lokasi, petugas di Stasiun KRL Bogor contohnya.

Buku Politik Jatah Preman oleh Ian Douglas Wilson

Ibuku menitip pesan untuk selalu berhati-hati dengan apa yang kulakukan di sini. Iya, tentu saja, tapi perlu dipahami bahwa yang kulakukan di sini bukanlah ujaran kebencian terhadap bapak-bapak itu, kok, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa ini adalah kultur dan sistem yang rusak, serta musti segera diperbaiki.


Comments

One response to “Budaya Premanisme yang Mendarah Daging”

  1. Ares nggak ada niatan menulis di Medium jugaa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.