Tolong, Bunuh Saja Idolamu!

Tiap kali kita melihat idola yang mempromosikan sesuatu, ambil contoh merchandise kaus, maka pasti akan ada hasrat besar yang datang pada kita untuk turut membeli barang tersebut. Hal itu dilakukan untuk membuktikan keloyalan kita pada mereka dan bilang “Nih, aku udah sama-an kayak kamu lho”, dan itu sah-sah saja kok. Singkatnya, seperti itulah sebuah konsep ‘idola dan pengikut’ menuruku, tak lebih dari sekedar tiru-meniru.

Seseorang, siapapun itu, dan dari masa kapanpun, bisa dijadikan idola asalkan sesuai dengan kompas moral dan/atau kesukaan (interest) diri-sendiri.

Sekarang, kita coba ambil contoh terdekat: seorang ketua OSIS. Individu yang telah dipercaya oleh sekolah untuk, pada dasarnya, menjadi panutan bagi seluruh civitas akademika. Maka akan tibalah masanya pada mereka untuk diingatkan “Sekarang, kamu dilihat. Lantas, jika dimulai dari kamu-nya saja sudah bermalas-malasan, maka apa kabar yang lain?” Meski hati coba menolak fakta, tapi tetap seperti itu lah dinamikanya. Untuk mereka yang jadi panutan, pasti akan selalu terkena tuntutan agar bisa jadi sempurna bak malaikat. Sekali lagi kutegaskan, itu tak dapat disalahkan, sebab tuntutan itu adalah konsekuensi dari angan kita yang mau jadi extraordinary; untuk jadi matahari di antara gelapnya angkasa.

Pesan untuk “be extraordinary” dari teman

Tapi kayaknya gue bukan Ketua OSIS, atau bahkan jadi artis. Syukurlah, mana mungkin bakal diidolakan.

Eits, siapa bilang?

Kita semua akan beranjak dewasa, dan pada akhirnya, insya Allah, akan diberikan tanggung jawab berupa anak. Mulai detik itu, setiap gerak-gerik kita akan terekam di otak mereka, kemudian itulah yang mereka anggap “benar”. Segala yang keluar dari lisan pun akan diperlakukan sama, terhafal, lalu diulang-ulang. Maka dengan itu, muncullah istilah “Bahasa Ibu”, alias bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir. Sebesar itu lah pengaruh seorang ayah dan ibu (yang juga seorang idola) bagi anak, semudah menulis di atas kertas kosong. Maka, akan jadi hal yang mustahil bagi mereka yang menginginkan anaknya tidak menyentuh rokok jikalau orang tuanya sendiri adalah perokok berat. Meskipun kita berteriak di depan mukanya “Bunuh saja idolamu!”, meski bukan secara harfiah, atau “Jangan ikuti aku!”, rasanya akan jadi sia-sia sebab akan dengan mudahnya anak-anak itu menimpali dengan kata-kata “Lah, kamu sendiri saja begitu.” Maka dengan itu, sudah jadi kepastian akan tiba masanya untuk masing-masing kita akan diberi titel ‘idola’ oleh orang lain, yakni anak.

Anak akan mencontoh idolanya, dalam kasus ini, sang Ayah.

Sebagai pengingat, alangkah baiknya jika kita bisa bermain peran dengan semaksimalnya, baik itu peran sebagai ‘pengikut’, maupun ‘idola’. Jadilah pengikut yang tau bahwa ada ketidaksempurnaan di setiap idola, kecuali Rasulullah SAW tentunya, sebab mereka juga manusia yang penuh salah dan lupa―tidak bisa seutuhnya kita jadikan mereka sebagai validasi atas segala sesuatu. Pada akhirnya, kompas moral itu lah yang akan jadi filter terhadap baik-buruknya. Lantas juga ketika kita berperan sebagai idola, maka tunjukkan lah yang terbaik sebab hasilnya pasti akan dapat dinikmati seorang diri.


Comments

5 responses to “Tolong, Bunuh Saja Idolamu!”

  1. first dapet apa

  2. hai! iseng iseng baca tulisannya dan sukaaa sama cara penyampaiannya, semangat terus berkarya ariz! i’ll wait for the next article

    1. Terima kasih!!

  3. kang galon Avatar

    ditunggu next postnya, ketos!

  4. hati-hati ya kak, semangat nulisnya, really like your writing btw 🙂

Leave a Reply to orang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.