Tepat di hari lebaran, kami duduk lesehan pada ruang tamu di rumah minimalis milik kakek. Ada bibi, uwak, abi, umi, dan tentu saja kakek—semuanya membicarakan masa depan, tapi tentu bukan bahas pernikahan, sebab masih cukup jauh untukku. Para bujang pun, kakak-kakakku, nampaknya bersembunyi di kamar, menghindari lontaran pertanyaan template yang pasti mencekik itu. Cuaca Subang kala itu sangat gerah, tapi semua tampak lebih peduli dengan obrolan demi obrolan.
Tibalah saatnya membahas perkuliahan. Mulanya, Abi menceritakan betapa bersyukurnya Ia ketika mendapati anak bungsunya bisa melanjutkan “perjuangannya” dalam berkuliah di IPB. Semua tampak menyambut berita bahagia tersebut dengan sumringah, termasuk bibi. Bibi kemudian merespon cerita Abi dengan mempertanyakan kesiapan diriku untuk kehidupan sebagai mahasiswa.
“Pulang-pergi, atau tinggal di kost? Kostnya, sudah dapat?” Daftar periksanya mulai dikeluarkan satu per satu.
“Kost, bi. Alhamdulillah, baru beberapa waktu lalu berburu bareng teman kelas. Beruntung sekali bisa dapat yang begitu dekat dengan pintu gerbang bagian belakang kampus.”
“Berarti ke kampunsnya jalan kaki, naik sepeda, atau… bawa motor?” Pertanyaan bibi masih berlanjut.
Terdengar sahutan Abi yang tiba-tiba menjawab, “Udah beli motor kok. Ariz pilihannya Honda Beat kemarin. Aing juga kaget dia milihnya Beat”
Sontak gemuruh tawa memenuhi seisi ruangan. Persis pada detik itu, aku menyadari bahwa tujuanku sudah tercapai. Nanti kamu akan tahu.
“Waduh, Ariz pilihnya Beat? Kecil atuh eta teh.” Tanya kakek kebingungan dengan suara paraunya.
Bibi mulai bercerita, “Anak temen bibi aja pas ditanya ‘Kamu berangkat sekolah naik Beat aja, ya, nak?’ Jawabnya ‘Embung, ah, hayangnya (Honda) PCX.’”
Uwak pun tak segan ikut berkomentar, kali ini agak berbeda caranya karena dengan isyarat tangan yang dibentuk huruf ‘x’ sambil mengernyit.
Aku bingung harus menanggapi semua itu dengan apa, tapi syukurnya umi seperti mencoba menjembatani dengan angkat bicara, “Ada filosofinya ceunah, coba Ais (panggilan Ariz lainnya) ceritakan pada kami semua.”
“Ya, simpelnya sih,” aku coba buka suara perlahan setelah menghela nafas. “karena semua yang Ariz butuhkan sudah tersedia dalam motor tersebut.” Semua orang dalam ruangan tersebut khusyuk mendengarkan ku bercerita bak lagi menyampaikan sebuah TED-Talks. “Asalkan motor itu aman dan bisa dipakai jalan ke kampus, ke warung, ke masjid, dan balik lagi ke kost—selesai, itu sudah lebih dari cukup.”
Sejak saat itu, aku yakin betul, meski mungkin akan terdengar klise, bahwa “kaya” bukan hanya soal nominal.
Seorang kawan ku suatu saat pernah bilang, “Untuk bisa memberikan pada kita yang terbaik, itu memang sudah jadi tugas bagi seorang orang tua karena telah melahirkan kita ke dunia.” Tapi, bukankah sedikit rasa syukur akan jauh lebih baik?


Leave a Reply