Tidak, bukan untuk sok jadi pahlawan diriku menuliskan ini, tapi untuk menjaga akal sehat dan syukur-syukur menyadarkan mereka yang mau membuka mata hati dan telinga.
Sedari kau sambutan, sudah diucapkan berkali-kali, bung, “ospek ini bertujuan mempersiapkan diri kalian tiga tahun ke depan.” Sayangnya, aku tak menemukan poin tersebut di tiap apa-apa yang kamu kerjakan, hingga hampir seluruhnya. Mari kita bedah satu-persatu.
Dalam peraturan yang sedang kau dikte, dalam pasal 6 ayat 1, “apabila (individu) tidak mengikuti rangkaian acara (ospek), maka akan dikenakan sanksi untuk satu angkatan.” Lalu saat aku mengajukan keberatan dengan argumen, kau hanya bisa jawab dengan “kalian ke sini bareng-bareng, kan?” Meskipun memang, iya, sih, kebetulan saya datang ke lokasi dengan membonceng teman seperjuangan saya, tapi itu tetaplah lucu. Bung, kau tak bisa berlindung dibalik teriakan “solid, solid, solid” itu. Suatu tindakan individu, bagaimanapun, takkan dapat dibebankan secara kolektif (ke kelompok, atau bahkan pada angkatan), tanpa adanya bukti kesepakatan bersama dari kelompok itu untuk melanggar aturan.
Belum selesai sampai situ, pelarangan buta, kecuali dengan izin (yang juga ruwet), terhadap aktivitas malam di luar kamar dalam radius tujuh kilometer dari kampus, sekaligus melarang penggunaan jam tangan dengan alasan yang katanya menjaga disiplin dan etika juga sangat berpotensi fallacy yang dinamakan slippery slope. Loh kok begitu? Aturan itu seakan melompat proses berpikir dan kesannya langsung mengasumsikan bahwa jika mahasiswa dibiarkan memakai jam tangan, atau berada di luar kos di atas jam sepuluh malam (bahkan barangkali untuk belajar atau urusan personal lainnya), maka berarti mereka akan menjadi tidak disiplin dan melanggar etika, atau singkatnya mereka akan pergi ke diskotik dan melakukan kriminalitas yang membahayakan keutuhan NKRI.
Kenapa sih hal itu bermasalah? Aturan itu seakan menyamaratakan semua aktivitas malam atau tujuan penggunaan jam tangan seseorang, yang padahal memakai jam tangan itu sendiri justru jelas bisa membantu mahasiswa untuk hadir tepat waktu (which is mendukung kedisiplinan), sehingga melarangnya justru kontradiktif secara logika.
Secara keseluruhan pula, jika diperhatikan dari tiap-tiap aturan, instrumen utama yang digunakan untuk membentuk “kedisiplinan dan etika” adalah ancaman pengurangan poin (agar bisa lulus ospek) dan sanksi yang diberikan kepada angkatan, yang dimana itu berarti memaksa penerapan sebuah nilai BUKAN dengan argumen rasional terkait “kenapa sih aturan tersebut dikatakan baik, atau dikatakan buruk?” melainkan justru hanya dengan kekuatan sanksi. Itu disebut argumentum ad baculum, bung.
Saya bukan sedang bilang bahwa sanksi itu sia-sia adanya. Namun, secara psikologi, aturan yang dibentuk bukan dari pemahaman atau internalisasi terhadap “why”-nya tadi, ya itu hanya akan membentuk kebiasaan ‘menghindari hukuman.’ Yang dikhawatirkan, dan nampaknya memang betul-betul terjadi, ketika sanksi hilang (seperti ospek telah usai), nilai atau kebiasaan yang ingin ditanamkan pun biasanya ikut luntur. Maka tak heran, kan, kenapa sebuah keluarga dengan strict parents bisa membentuk anak yang cenderung rebel. Singkatnya, kenapa pula sedari awal mempertegas aturan yang nantinya juga “dilanggar” pada saat ospek berakhir.
Saya sangat mengapresiasi kalian yang menyertakan kewajiban ‘5S’ alias senyum, sapa, salam, sopan dan santun, sebab itu bagus secara logika, bahkan kalau perlu, sekalian tambahkan ‘1T’, berupa tos, agar lebih solid lagi.
Bapak kami Ibrahim senantiasa mengajarkan untuk berpikir logis. Saat rumah ibadah sedang sepi, Ia pernah menghancurkan berhala-berhala di dalamnya dengan kapak, lalu menyisakan satu (yang paling besar), dan menautkan kapak pada berhala yang tersisa itu. Lantas ketika kembali dan ditanya oleh masyarakat atas ulah siapakah ini, Ibrahim menjawab, “patung besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah pada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”
Sekarang, apakah kita masih mau terus tutup mata dan terus “menyembah berhala” yang jelas-jelas tak membawakan manfaat, atau justru membuka mata dengan suatu hal yang lebih dapat diterima secara akal sehat?
Aku tak pernah membenci siapapun. Aku membenci kebodohan dan perilaku yang tidak didasarkan pada argumen yang logis. Aku hanya menyayangkan, kampus, yang katanya menjadi masyarakat kecil, justru membentuk dan menormalisasi sesat pikir yang sedemikian rupa. Hamba hanya khawatir itu terbawa hingga tua. Entah atas dasar “kebiasaan nenek moyang kami memang begitu, kok!” (kakak angkatan kami juga begitu), atau bagaimana, tapi yang jelas, itu salah. Hal yang salah, akan senantiasa kubilang salah, selagi masih bisa.
Dari sini, maka bukankah telah terang bahwa ketimbang buang-buang waktu dan tenaga untuk ospek yang banyak kemarahan dan kesia-siaan, bagaimana jika kita berdiskusi, belajar bersama lagi soal mata kuliah Statistika atau Matematika Berpikir Logis, dan bicara baik-baik saja?
Kita belum bicara soal diksi-diksi yang mengarah pada militeristik juga yang kerap dinormalisasi. Contohnya seperti “izin, kak” atau “izin masuk, bang!” yang terus menerus digaungkan. Mungkin lain kali bisa kita bahas. Atau boleh juga, nih, jika teman-teman ingin membaca buku 1984 karya pak Orwell terlebih dahulu sebagai introduksi, agar sedikit tergambar seberapa besarnya dampak kebahasaan terhadap alam bawah sadar.

Leave a Reply