Ketika Merasa Hidup Tak Ada Gunanya

anakku

Selalu akan ada mereka di muka pintu. Mengulang-ngulang kata “ngeong” dengan nada teramat manja. Sejujurnya, sayang, Aku takkan pernah paham artinya apa. Namun, aku paham betul maksudmu apa. Seperti halnya tajam peka ayah pada tangis putrinya, rintihanmu lebih bekerja sebagai pengingat di pagi hari ketimbang seluruh kebisingan alarm ponselku digabungkan.

Begitu senangnya mereka tiap pintu itu dibuka, pertanda hidangan akan segera tersaji. Berputar-putar mereka dengan bahagia seperti ingin mengajakku berdansa ria. Tak lupa juga memeperkan badannya yang penuh bulu rontok ke betis, sesukamu saja.

Mereka tak pernah pilih-pilih makanan, Whiskas maupun merk random. Apapun yang kuberikan, dilahapnya ludas.

Aku tahu uang yang kupakai untuk beli makanan itu berasal dari orang tua. Aku juga sadari raga ini yang menggerakkan ialah Tuhan semata. Namun, sekurang-kurangnya, kosong hampa hidupku jadi bisa sedikit ada maknanya: ada gunanya. Harapanku demikian.

Ada hal menarik lagi yang biasa kulakukan dengan anak-anakku. Kami suka makan bersama. Saat di rumah makan padang, misalnya. Tak jarang ikan kembung yang menggoda itu kubelah jadi dua, meski lapar masih merajalela, lalu kuletakkan dibawah meja. Takut dicap tak menghargai makanan oleh pak etek, penjualnya, biasanya gerak-gerik kami hanya dieksekusi kala pak etek kembali ke dapur. Tapi tenang saja, bekas minyak makanmu biar aku yang lap.

Jangan pernah bosan menungguku di depan pintu, atau di tempat manapun itu di dunia ini, ya.


Comments

2 responses to “Ketika Merasa Hidup Tak Ada Gunanya”

  1. Beautifully written, Ariz. As always.

  2. kucing memang seringkali bikin terhibur ya ^^ semoga terus dikelilingi kucing kucing pembawa baik!

Leave a Reply to nona Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.