Sehubungan dengan unggahan kedua dari blog Tidur Tak Bangun, jadi saya mau bahas hal-hal yang berbau ‘dua’. Tak lain tak bukan adalah Second Account.
Untuk anak generasi Z seperti saya, sudah jadi hal lumrah—bahkan jadi keharusan—untuk mempunyai akun kedua, atau yang biasa disebut Second Account. Mungkin ini semua menjadi “harus” sebab kita memerlukan satu ‘safe place’ yang isinya orang-orang yang kita percaya dan tidak akan cepu untuk menerima semua pandangan dan unggahan yang boleh dibilang cukup berbahaya untuk konsumsi publik.
Bagaimanapun, saya tidak bisa menjustifikasi bahwa semua dari kita mempergunakan second account seperti itu, karena faktanya ada pula yang menjadikan second account-nya hanya untuk hal-hal semacam nge-stalk orang dan berselancar secara anonim di internet, atau menjadikannya sebagai penyimpanan foto dan video momen-momen hidupnya dengan begitu detail bak behind the scenes dari sebuah film panjang.
Seperti yang saya sampaikan di halaman perkenalan, cara saya melihat dunia memang cukup berbeda. Per dua bulan lalu, saya tak lagi tergoda ‘tuk menggunakan second account, dan akhirnya dihapus secara permanen. Saya pun mengakhirinya dengan mengunggah satu ilustrasi meme sindiran beserta caption yang mengungkapkan keresahan saya sendiri terhadap akun ‘muka kedua’ ini.

‘Oversharing’ jadi alasan utamanya. Dari yang saya amati, ketika membagikan (share) hal yang cukup privat, pada akhirnya itu bisa menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Betul, bisa saya pastikan dari awal siapa-siapa saja yang diterima (accept) untuk bisa melihat akun tersebut, namun di tengah perjalanan tidak ada yang tahu apakah ada niatan buruk dari orang-orang tersebut, atau tidak.
Di awal tadi, mungkin kita bisa setuju bahwa second account dapat memberikan sedikit keleluasaan lebih untuk berekspresi ketimbang akun utama yang cenderung kaku sebab banyak pencitraan. Namun, yang namanya bersosialisasi dengan manusia lain, tetap dibutuhkan suatu batasan atau tembok. Nah, di sini lah bagian lucunya tiba. Yang awalnya (dengan akun utama) kita hanya perlu mempertimbangkan “Ini layak untuk diunggah ke publik, atau nggak, ya?” Dengan hadirnya second account, bertambah satu tembok lagi dimana yang pertama: “Ini layak buat dilihat sama guru dan calon mertua, nggak, ya?” Lalu, dilanjutkan tembok yang kedua: “Ini cringe kalau dilihat temen-temen, nggak, ya?” Karna siapapun audiens (followers) kita, pasti ada rasa ingin untuk orang itu melihat/memandang kita seperti apa yang kita inginkan. Buktinya, kita masih merasa cringe atau malu di beberapa kondisi, yang padahal itu adalah second account yang katanya ‘bebas’. Begitu rumit dan melelahkan hanya untuk dijelaskan, apalagi dirasakan sendiri.


Dengan kesibukan saya yang makin meningkat, hal-hal ini harus ditinggalkan demi menghemat tenaga, waktu, dan kondisi mental diri ini. Jujur, setelah lepas dari itu semua, rasanya begitu lega dan bisa menikmati kejadian-kejadian dalam hidup tanpa harus dikit-dikit diunggah.


Leave a Reply