Kenapa ‘Tidur Tak Bangun’?

Setiap malam, kita pasti butuh yang namanya ‘tidur’—meski untuk mahasiswa teknik, durasi tidurnya akan sedikit berkurang dari semestinya. Namun pada akhirnya, saking membutuhkannya, sekuat apapun usaha kita untuk tetap terjaga, pasti terlelap juga. Kita, manusia, adalah makhluk yang se-lemah itu.

Sedikit menyinggung salah seorang penyanyi favorit saya, Billie Eilish, yang sukses memulai debutnya dengan album bertajuk WHEN WE ALL FALL ASLEEP, WHERE DO WE GO? Dari tajuk yang cukup eksentrik tersebut, dapat kita maknai lebih dalam bahwa ternyata Billie mempunyai rasa keingintahuan yang serupa. Sebab sampai sekarang, nampaknya tak ada yang dapat menjawab sebuah pertanyaan sesimpel: “Saat kita tertidur, kemana kita pergi?” Sekali lagi, kita, manusia, adalah makhluk yang se-lemah itu.

Begitu lucu ketika kita menelisik kembali rutinitas sehari-hari yang justru malah terasa begitu jauh nan asing, padahal konon katanya, manusia sudah sejauh itu untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Buktinya, untuk sekedar menjamin bahwa ‘diri kita masih akan terbangun di esok hari’ saja tidak pernah mampu.

“Lantas, dengan adanya realita tersebut, apakah kita hanya perlu diam dan tak kemana-mana?”

Jawaban dari pertanyaan itu tentu akan bervariasi, bergantung pada tujuan hidup dan kepercayaan masing-masing. Namun, saya sendiri menanggapinya dengan kacamata optimis, yang kurang lebih berbunyi seperti berikut: “Boleh jadi, besok gue mati, dan tidak perlu repot-repot hidup di dunia ini lagi. Oleh karenanya, buat detik-detik terakhir ini berarti.” 

Menurutku, ide ini bisa diterapkan dimanapun dengan tujuan agar lebih mindful dan tenang dalam menjalani hari. “Belum tentu ibu masih akan terbangun esok pagi, maka layanilah bak seorang ratu.” Mohon maaf, bukannya mendoakan yang buruk-buruk, tapi justru dengan cara seperti itu lah kita dapat tersadarkan bahwa kita semua sangatlah rapuh.

Hidup ini terlalu singkat bagaikan sebuah mimpi dalam tidur kita.

Potongan lirik dari lagu Noah Cyrus The End of Everything

Pada akhirnya, saya menautkan frasa (Tidur Tak Bangun) tersebut pada nama diri ini—serta di berbagai macam akun—agar senantiasa teringat akan lucunya dunia yang kita singgahi ini.

Meme tentang nihilisme. Source: satupersen.net

Comments

3 responses to “Kenapa ‘Tidur Tak Bangun’?”

  1. Bang ariz ngak tau kalau kita tidur ruh kita ke mana.
    Tapi ceritanya wow sihh

  2. SCOFIC Avatar

    mantap pak ketos

  3. stop yapping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.