Menyia-nyiakan Mati

Babak Awal

“Bapaknya udah meninggal dari Covid, tapi anak itu tetap enggak mau berubah,” katanya padaku, kurang lebih. Kalimat itu meluncur dari lisan seorang guru, yang sekarang jasadnya juga sudah di tanah. Mungkin dia terlanjur gedeg dengan bocah itu, letih mengingatkan. Toh segala macam aturan di sekolah sudah diterabas anak itu, tak pernah mau berubah. Mau dijerat hukuman macam apa pula, eh, tetap tak ada kemajuan, luar biasa.

Pernah suatu malam, ketika bocah itu nampak mati enggan pun hidup susah, maksudku berbaring di kasur asrama dalam sehat raga (entah bagaimana kalau dengan kabar mentalnya) tapi disuruh ke masjid tak mau, guru satu itu meneleponku buat minta tolong bawakan dia nasi goreng atau apalah (sebab absen dari saf salat di masjid berarti sama dengan tidak dapat jatah makan di resto). “Aku ernah (saltik: pernah) kelaperan, gakad (saltik: enggak ada) uang; Dia kelaperan (padahal) ada uang, karena ego dia aja. Kesamaannya laper,” kata bapak beranak tiga itu padaku lewat WhatsApp. Hebat, dibuat susah nyaris tiga tahun sudah dengan kelakuannya, sampai dikambing hitamkan kepala asrama atas itu, tapi masih mau berempati, itulah guruku. Kebetulan aku baru balik mengantar narasumber suatu acara ke Rangkasbitung, jadi hamba menurut perintah aja.

Entah bagaimana keadaan anak satu itu sekarang. Di pemakaman gurunya tersebut, seingatku, dia tak hadir, entah dengan alasan apa. Mari kita doakan yang baik-baik, mudah-mudahan masih ada cahaya buat dia. Semoga ada kesempatan kuberbincang dengan dia lagi.

Tapi tenang saja, bos (panggilan akrab dariku). Muridmu bukan dia seorang doang. Kau sudah sukses membentuk mereka-mereka yang lain. Dengan sabar seluas langit dan bumi, kau izinkan mereka nyile (main ponsel tanpa izin tertulis dari pimpinan), tapi sekaligus membentuk kebijaksanaan dalam diri mereka. Mereka rindu betul, bos. Menangis mereka melihat tubuhmu pulang ke lahad; mengenang-ngenang sambil menunjuk sudut-sudut asrama yang ada pak bos kala itu, terpukul. “Enggak nyangka secepet itu,” kata mereka semua kompak di kamar pembina.

Tiap-tiap pesanmu, bos, kan kami kenang, berharap bisa jadi ladang pahala buatmu juga.

Babak Tengah

Tanpa mengurangi rasa takzimku padamu, tapi diri ini khawatir mengulangi salah yang sama. Aku masih sering lupa. Aku minta maaf, pak, aku menyia-nyiakan matimu. Aku tak pernah takut mati, pak, tapi begitu takut mati saat berdosa, maafkan aku menyia-nyiakan mati. Begitu takut aku untuk tidur karena mungkin tak bisa lagi lihat seberkas cahaya matahari besok, buat menutup dosa yang terlanjur menggunung. Maka tolong maafkan aku, pendahulu, telah menyia-nyiakan mati.

Babak Akhir

Kali ini guru yang lain. Dikabari olehnya pukul tujuh sesosok yang pernah mengandungnya telah tiada. “Entah peringatan yang ke berapa kali,” kataku pada cermin, ditampar kabar duka bolak-balik. Dari Bogor ke Jakarta tak ada jauh-jauhnya sama sekali rasanya sekarang. Tak apa, debu jalanan dan terik juga jadi harga yang cukup adil. “Makasih, jauh-jauh datang ke rumah mama,” kata dia. Lantas aku jawab “memang aku juga lagi butuh pengingat.”

Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho,” mengutip perkataan calon kakak ipar (yang juga mengutip sang Utusan), mudah-mudahan betul-betul betul cukup sampai sini saja, ya, Riz. Jangan sampai predikat anak itu enggak mau berubah terpasang di jidatmu pula.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.