Titel Mewah “Lebih Dewasa dari Umi” dari Umi

Memangnya siapa pula yang baru mengelilingi matahari sembilan belas kali tapi sudah ikut-ikutan kelas pranikah? Penulis blog ini tentu saja.. tapi ayolah bung, coba dipikir lagi.

Toh kamu urus acara organisasi yang tak lebih dari sehari saja persiapannya wajib-perlu-fardhu ain berbulan-bulan sebelum tanggal main, kan? Kok iso dengan urusan yang durasinya sampai kamu balik ke tanah baru dipersiapkan sebulan menjelang lamaran?

Kita tentu perlu pahami bahwa nikah bukan usai di pengucapan sumpah atau resepsi, dan bukan hanya soal honeymoon ke Jepang, atau ke IKEA pilah-pilih meja makan, atau merangkai vas bunga, atau slow dancing sambil diiringi It’s Been a Long, Long Time hingga encok, melainkan soal tanggung jawab, bung.

Mehmed II saja ketika ‘sekadar’ mau menaklukkan sebuah kota, Konstantinopel namanya, perlu dibina sedari belia dengan guru-guru terbaik. Maka buat ‘menaklukkan’ perempuan sekompleks itu wes jelas ra iso setengah-setengah.

Di Konoha, misalnya, insinyur hendak bangun rumah tapi baru nyambi belajar kalkulus, yo opo ndak roboh, toh, mas? Nah, ada yang lebih lucu lagi kali ini: yang baru mau belajar parenting saat sudah jadi parent. Iya, telat memang lebih baik daripada tidak sama sekali, betul sekali. Tapi ini enggak seperti kuliahmu yang diwajarkan dosen bila terlambat sampai tiga kali pertemuan.

Lelaki, duhai, berjuta kali sudah kubilang, kamu tuh lagi mau merebut permata dari seorang bapak, yang dirawatnya dari usia nol, bahkan dari negatif (sejak dalam kandungan maksudnya). Belajar lebih dahulu justru buat dirimu makin wawas, dan bukan asal pilih, lalu kawin, buat anak, hura-hura, lalu modar bunuh diri bersama istri dari atas genteng karena gila.

Hamba bicara demikian pun bukan berarti mau ke KUA besok pagi, kok. Sekali lagi, sebatas mewawas diri, tak lebih.

Diksi “umi” dan “umat” juga tak jauh beda. Sadar, enggak? Asal katanya sama-sama alif dan mim tasydid. Kita sedang mau bangun peradaban, loh, ini bukan main-main.

“Memangnya umi dulu persiapannya apa?”

“Baca buku aja. Ada, tuh, di lemari belakang, tapi belum selesai juga sih,” katanya sambil tersenyum tipis. Tapi Aku cukup percaya, dia belajar sudah jauh, jauh lebih lama daripada kisah yang diceritakannya pada ku, dengan nenek.

Sejauh yang kupahami, mengamati tindak tanduk orang tuamu—itu belajar; cuci piring atau jemur pakaian sambil berdiskusi tentang apa yang kurang dari sosok ayahmu dengan ibu—itu pun belajar, biar tak jatuh di lubang yang sama. Nonton series Ngaji Jomblo bikinan seorang kokoh yang mualaf pun juga belajar. Intinya, apapun yang memang diniatkan buat itu (ending-nya).

Aku belum pernah disematkan titel semewah “adek lebih dewasa dari umi” dari Umi seorang sebelumnya. Siapa yang pernah sangka pula gelar semacam itu bisa terucap? Semoga hidupku memang bukan buat menguras stok beras doang, lebih dari itu: jadi lebih baik dari pendahulu, biar akhirnya dia (umi), dia yang lainnya (si itu) dan Dia (yang cintanya padaku melebihi semua makhluk di muka Bumi) bangga.


Comments

One response to “Titel Mewah “Lebih Dewasa dari Umi” dari Umi”

  1. aleseanayyas Avatar
    aleseanayyas

    Arizz, I completely agree with you!!

    Buat aku yang juga punya pemikiran sama tentang yang baru aja kamu tulis, rasanya bikin aku makin “pede” untuk belajar lebih jauh tentang parenting. Honestly, aku udah tertarik dan belajar parenting dari SMP😂✌🏻(walau sampai sekarang ilmu nya masih secuil hihi) kadang malu karena takut dikira “ngebet nikah”, tapi setelah baca tulisan kamu ini ternyata memang betul untuk jadi seorang ibu gak bisa dipersiapkan dengan modal belajar satu malam aja 🙂

    Semangat belajar terus, Riz!! Ur future wife n children will surely be proud of you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.