Duhai Lelaki, Hidupmu Bukan Cuma Soal TITIT!

Tuhan beri akal, tapi tiap hawa datang, kau tak ubahnya hewan, bahkan lebih rendah. Kau pikir aku tak pahami polanya? Aku juga lelaki, bung. Namun, kuharap, diri ini, meskipun jelas bukan malaikat, selalu mampu menahan.

Itulah pornografi, wahai otak selangkangan, yang akan diperbuatnya terhadapmu. Mulanya kau senang dan lega dan seakan-akan beban hidupmu hilang seluruhnya. Sayangnya, sebaliknya, sayang. Itu baru permulaan, bak seorang penculik yang beri anak kecil setangkai gulali, di awal memang manis. Tapi tunggulah, nanti kau akan disiksanya habis-habisan, tanpa ampun.

Dia akan merengek pada prefrontal cortex, “ayo tonton lagi!” Kau bersujud padanya. Kemudian video di situs favorit kau pilah-pilih bak etalase. Yang satu, menurutmu, ukurannya kurang pas dengan selera; yang lain gayanya tak sesuai dengan yang diidamkan. Ketemu, tinggal klik, wah, sungguhlah mudah.

Tapi, bung, apakah kau pernah sadari? Sadari bahwa ia selama ini, dengan sabar, membangun ilusi dalam dirimu bahwa semua wanita tunduk padamu. Semuanya sesuka kamu. Ya, aku takkan terkejut bila kau jawab “tidak.”

Aku perlahan juga paham mengapa ayah dari teman wanitaku memilih topik pembicaraan ini, ketimbang jutaan kemungkinan lain, dalam suatu kesempatan makan malam yang mungkin takkan pernah bisa kuulangi lagi. Tebakanku, mohon dikoreksi bila ku salah pak, ya, karena pohon dalam jiwamu akan rusak, membusuk, hingga ke akar-akarnya, bahkan sekaligus meracuni tanah yang kau singgahi.

“Jangan pernah berani-beraninya kamu mendekati.”

Tahu mengapa kupakai diksi meracuni tanah yang kau singgahi itu? Karena hidupmu bukan soal titit saja. Segala yang kau perbuat akan ada akibatnya juga pada orang di sekitarmu. Pada pasanganmu, dan tentu saja pada anakmu. Bapak lain menurunkan hobi menonton sepak bola pada anaknya; sedang engkau turunkan hobi catcalling, membicarakan lekuk tubuh di group Line dan masturbasi pada anakmu. Aku mungkin merasa akan jauh lebih baik diri ini dibunuh, jika amit-amit hal tersebut terjadi pada diriku.

Ayo lah, bung, nanti juga di surga, tapi kalau kita memang nantinya diberi izin masuk oleh Ridwan, kau bisa menikmatinya, sepuas-puasnya. Maka sadarilah fakta bahwa sepasang buah zakar dan bola matamu tak pernah jadi milikmu sepenuhnya.

Berpuasalah, tundukkanlah, bersabarlah, sebab, meminjam kata-kata dari Ario Muhammad, lelaki tak dilihat dari apa yang dia mampu nikmati, melainkan apa yang dia mampu tahan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.