Biarkan Mereka Menghias Wajahku

Gugusan bintang warna merah, tapi yang kali ini tak begitu menyala terang. Aku hanya ingin beri ruang dan biarkan mereka tetap bertengger di sana. Aku tak merasa perlu menutup-nutupinya dengan plester—biarkan satu dunia tahu bahwa ada mereka di wajahku, yang bantu mendekorasi agar tak kosong-kosong amat.

Tapi Umi nggak suka.

Pokoknya, itu jerawat harus dimusnahkan, katanya kurang lebih, sambil menyodorkan obat. Kebetulan dia pengecer salah satu merek kosmetik. Lantas jiwa businesswoman-nya langsung keluar dengan menjelaskan keunggulan racikan tersebut adalah ini dan itu, layaknya sedang bincang dengan pelanggan yang tercerahkan, padahal tidak sama sekali sebetulnya.

Ini tuh bukan wujud malas merawat diri, Mi, menurut kepercayaanku, loh, ya. Toh, Aku tetap cuci muka (pakai sabun) dan wudu, kok. Perkara apakah jerawatnya hilang atau nggak, itu belakangan.

Akhirnya tetap dioles juga, sih, obatnya. Tentu terpaksa. Hanya saja, loh, kok wanginya tak sedap? Duh, kok agak gatel, ya? Pokoknya, dicari terus lah kesalahannya. Sebenci itu sama cairan hijau muda itu.

Lewat sudah beberapa bulan jerawat itu diperangi dengan obat, Umi bilang, “Ih, cakep, udah berkurang tuh,” sambil menyipitkan matanya yang minus. Aku bingung. Bagian mana yang hilang? Mari kita absen sambil becermin. Di pipi, sama saja; Di dahi, masih ada di sana. Aku bingung, lagi. Ini memang beneran hilang atau cuma kata-kata penyenang hatimu, sih, Mi?

Sebelum dicap durhaka, mohon tenangkan diri pemirsa sekalian, karena aku masih berusaha berbakti. Obat itu sampai detik ini masih rutin dipakai, kok. Tapi, kali ini niatnya yang berbeda. Aku bukan lagi pakai obat itu untuk bunuh jerawat, tapi justru, ya, itu, menyenangi hatinya. Hati Umi. Biarkan aku jadi salah satu pelanggan setia sekaligus penglaris produk-produknya. Aku cukup rela untuk berbuat demikian demi mu seorang.

Mungkin karena memang Aku sendiri yang ingin mereka tetap di sana, jadi mereka enggan beranjak. Mungkin biar aku juga selalu ingat ketampanan jasad ini hanya nol koma sekian persen atas hasil pembagian angka dua puluh lima persen dengan jumlah seluruh keindahan alam beserta makhluk di dalamnya. Lagi pula, kalau mereka cepat hilang, kamu akan kehilangan satu pelanggan setia, Mi.


Comments

2 responses to “Biarkan Mereka Menghias Wajahku”

  1. anonymous Avatar

    unik

  2. YULIA ANNISYAH Avatar
    YULIA ANNISYAH

    SUKA BANGETTT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.